Minggu, 21 Jul 2024

Bisa Berujung Bencana, Sampah Tak Bisa Dianggap Sepele

Pencemaran laut oleh sampah dan limbah ikut mengancam tak hanya keberlangsungan laut, melainkan mengancam pula kedaulatan dan kesatuan wilayah negara.

ESG Indonesia – Besaran sampah di tanah air yang cenderung terus bertambah tiap tahun, bukan semata angkanya yang terus membesar, melainkan cara penanganannya. Sampah yang tidak tertangani dengan benar menjadi sumber pencemaran bahkan bencana, baik di darat maupun perairan seperti sungai dan laut.

Kondisi itu harus diakui tidak terlepas dari semakin meningkatnya jumlah penduduk, sementara tempat pembuangan maupun pengelolaan sampah begitu terbatas. Belum lagi persoalan kesadaran masyarakat yang belum merata.

Sebelumnya, Bank Dunia juga pernah membuat laporan yang dirilis pada 2018 disebutkan bahwa setiap orang di dunia rata-rata menyumbang 0,74 kg sampah per hari.

Pemerintah pun sadar akan persoalan tersebut, Presiden Joko Widodo pun berulangkali memberikan perhatian khusus terhadap masalah sampah ini.  Saat Konferensi Pers KTT Archipelago and Island States (AIS) Forum 2023 di Bali, Rabu (11/10/2023), Jokowi menyebut pencemaran laut oleh sampah dan limbah ikut mengancam tak hanya keberlangsungan laut, melainkan mengancam pula kedaulatan dan kesatuan wilayah negara.

Sampah plastik
Ilustrasi limbah plastik. (pixabay)

Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dari hasil input dari 202 kabupaten/kota se-Indonesia pada tahun 2022 menyebut jumlah timbunan sampah nasional mencapai angka 21.1 juta ton.

Dari total produksi sampah nasional tersebut, sebanyak 65.71% (13.9 juta ton) dapat terkelola, sedangkan sisanya 34,29% (7,2 juta ton) belum terkelola dengan baik. Selanjutnya lembaga Sustainable Waste Indonesia (SWI) menyebutkan, dari total sampah nasional per tahun. Sampah plastik menguasai lima persen atau 3,2 juta ton dari total sampah.

Dari jumlah tersebut, produk air minum dalam kemasan (AMDK) bermerek menyumbang 226 ribu ton atau 7,06 persen dan sebanyak 46 ribu ton atau 20,3 persen dari total timbulan sampah produk AMDK bermerek merupakan kemasan gelas plastik.

Agar sengkarut sampah di tanah air tidak berlarut, selayaknya pengelolaannya dilakukan secara  terpadu. Langkah awal untuk ini dilakukan Kementerian LHK dengan cara  melarang open dumping. Artinya, sampah yang semula hanya dibuang saja (tanpa diolah)  sehingga membuat penumpukan, kini harus diolah terlebih dulu.

Larangan itu berlaku seiring dengan terbitnya UU Pengelolaan Sampah tahun 2008. Sejak itu, pengelolaan sampah di tempat pembuangan sampah (TPS) terpadu, didorong untuk kreatif. Antara lain, mengubahnya menjadi energi melalui insentilator atau RefuseDerived Fuel. Bukan hanya energi, tapi juga dipilah dan diolah kembali menjadi bahan baku produk lain.

sampah plastik
Ilustrasi sampah plastik. (pixabay)

Banyumas, Pengelolaan Sampah Terbaik

Melansir indonesia.go.id, salah satu model terbaik pengelolaan sampah ada di Kabupaten Banyumas yang sukses mengelola sampah dengan hasil hampir mencapai zero landfill, sehingga membuat Banyumas terpilih sebagai tuan rumah Smart Green Asean Cities (SGAC) Programme’s 2nd City Windows Series 2023, yang melibatkan perwakilan 13 kota dari 8 negara di Asean atau negara di wilayah Asia Tenggara.

Pemerintah Kabupaten Banyumas mengelola sampah dengan membangun hanggar tempat pengelolaan sampah reducereuse, and recycle (TPS3R). Setiap hanggar memiliki mesin pemilah manual (bag conveyor) dan mesin pencuci sampah plastik (gibrik).

Pemrosesannya ditambah dengan alat hot extruder atau mesin hidrolik yang bisa digunakan untuk membuat sampah cair dan mencetaknya, sementara untuk pengelolaannya diserahkan ke masyarakat.

Bupati Banyumas Husein mengungkapkan, inovasi pengelolaan ini diawali dari keterpaksaan karena tempat pembuangan akhir yang dikelola pemda ditutup oleh warga. Pemkab Banyumas lantas mencoba membangun pusat daur ulang sampah, namun hasilnya kurang maksimal.

Kemudian dibangunlah tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST) yang dilengkapi mesin pemilah antara sampah organik dan anorganik. Pengelolaan sampah dilakukan dari hulu ke hilir, dengan mengajak masyarakat untuk ikut serta memilih sampah dan menjualnya kepada Pemkab Banyumas dengan menggunakan aplikasi Sampah Online Banyumas (Salinmas) dan Ojeke Inyong (Jeknyong).

Setelah melewati proses pemilahan, kemudian diolah menjadi paving, atap, bata, pupuk kompos, serta biji plastik yang memiliki nilai ekonomi.

Target Pengelolaan Sampah

Pemerintah mempunyai target besar dalam mengatur pengelolaan sampah. Berdasarkan Kebijakan Strategi Nasional (Jakstranas), Indonesia didorong untuk mencapai target pengelolaan sebesar 100% pada 2025, melalui 30 persen pengurangan sampah dan 70 persen penanganan.  Saat ini angkanya baru di kisaran 14,58 persen untuk pengurangan sampah, dan 47,64 persen buat penanganan.

Langkah untuk mencapai target itu tidak mudah. Perlu ada sinergi dan kerja sama antara pemerintah pusat dan daerah. Termasuk, melibatkan lembaga kemasyarakatan untuk mendorong keberhasilan pengelolaan sampah dari mulai hulu hingga ke hilir.

Pengelolaan dilakukan dari tapak terkecil pada skala rumah tangga. Kemudian dikumpulkan dan dipilah melalui bank sampah sekitar, dan diolah berdasarkan kategori hasil pemilahan.

Sampah
ilustrasi tempat sampah. (pixabay)

Untuk jenis limbah rumah tangga organik diolah menjadi pupuk. Kemudian plastik didaur ulang. Sementara itu, limbah B3 dan Non B3 diolah kembali, dan sisanya diletakkan pada TPU atau dijadikan bahan bakar pada shelter pengolah sampah menjadi energi listrik (PSEL).

Pada 2022, pemerintah telah membangun 212 bank sampah secara nasional dengan total jumlah nasabah 44.656 orang. Berdasarkan data Ditjen Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3, total omzet dari seluruh bank sampah yang dibangun sebesar Rp3.996.178.438. Omzet terbesar dari Pulau Jawa mencapai Rp2.731.508.547 atau 68,35% secara nasional.

Pemerintah juga telah membuat Indeks Kinerja Pengelolaan Sampah (IKPS) yang merupakan instrumen standar penilaian kinerja pengelolaan sampah dari pusat hingga daerah. Penilaian pengelolaan sampah ini penting, mengingat dibutuhkan standar penilaian yang seragam baik untuk kota metropolitan, kota besar, maupun kecil.

Satu hal lagi yang menjadi energi positif adalah kebijakan larangan penggunaan kantong plastik di sejumlah daerah. Gerakan larangan ini efektif untuk mendorong kesadaran masyarakat terhadap sampah anorganik. Terlihat, konsumen di minimarket atau pusat perbelanjaan mulai membawa tas belanjaan masing-masing.

Hanya saja, untuk belanja online, masih banyak yang menggunakan plastik untuk pembungkus paket. Oleh sebab itu, perlu ada edukasi kepada penjual cara packaging atau pemaketan yang bagus dan ramah lingkungan.

Tantangan besar dan utama tentu adalah masalah habit manusia Indonesia. Sebab,  perilaku masyarakat masyarakat kita masih suka membuang sampah sembarangan. Mengubah perilaku orang tentu tidak mudah. Perlu cara atau metode yang persuasif dimulai dari tingkat rukun tetangga (RT) agar tak ada lagi yang membuang sampah sembarangan.

WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com