Minggu, 21 Jul 2024

Strategi BRI Capai Net Zero Emission Indonesia di 2060

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI menyusun strategi khusus dalam merealisasikan Net Zero Emission (NZE) tahun 2060 sebagai salah satu aspirasi pemerintah.

Direktur Kepatuhan BRI, Ahmad Solichin Lutfiyanto menyampaikan bahwa pihaknya optimis dan yakni target net zero emission 20260 dapat tercapai.

“Bicara apa peran BRI dalam pencapaian target net zero emission 2060, kami sudah mempunyai policy namanya ESG roadmap. Dimana BRI akan mencapai NZE di tahun 2050. Nah, yang kedua, kebijakan itu tentu harus diimplementasikan. Kita juga sudah punya berbagai strategi, inisiatif, dan program bagaimana mengimplementasikan strategi itu baik di bisnis maupun di operasional,” ujar Ahmad.

Dalam ESG roadmap-nya, BRI bisa menurunkan emisi sekitar 30-40% di tahun 2030 secara bertahap. Hal ini beriringan dengan target Enhanced-NDC Indonesia. Adapun cara BRI untuk mencapai NZE Indonesia pada tahun 2060 adalah dengan aktif dalam memberikan kredit kepada green sector dan turut serta dalam inisiatif Pemerintah, seperti yang terjadi dalam perdagangan karbon perdana pada tanggal 26 September yang lalu.

“Kalau komitmen kami, tentu ke depan BRI akan terus memperbesar porsi dari pembiayaan hijau,” jelasnya.

Secara keseluruhan, Perseroan telah menunjukkan komitmen yang kuat terhadap pembiayaan berkelanjutan. Ini mencakup dukungan finansial kepada UMKM serta sektor hijau dengan jumlah pembiayaan mencapai Rp732,3 triliun atau sekitar 67,2% dari total pembiayaan yang disalurkan bank.

Sebagai bank yang berfokus pada pelayanan kepada UMKM, BRI telah memberikan pembiayaan sebesar Rp652,9 triliun kepada sektor UMKM, sementara pembiayaan ke sektor yang berkelanjutan mencapai Rp79,4 triliun.

“Bank itu adalah highly regulated industry, karena bank adalah bisnis yang berisiko sangat tinggi, sehingga kami di bank harus menerapkan best practice dalam risk management. Dalam konteks ekonomi hijau, Ada dua risiko utama yang harus di-manage, itu adalah physical risk dan transition risk. Challenge terbesar buat bank itu adalah bagaimana mengelola transition risk. Ini nilainya besar sekali dan itu nggak mungkin ditanggung sendiri oleh bank. Bahkan harus ada kolaborasi baik dari pemerintah, bank, industri, dan para pihak terkait,” jelas Solichin mengenai tantangan bank dalam menyalurkan pembiayaan hijau.

BRI telah berupaya menjalankan manajemen risiko yang dimaksimalkan dalam penyaluran kredit ke sektor hijau. Hal ini dilakukan dengan climate change scenario analysis berstandar internasional, serta menyusun credit policy per sektor untuk sektor palm oil dan pulp & paper.

Di samping tingginya risiko, Solichin juga memberikan penjelasan bahwa peran pemerintah dan pelaku industri memiliki peran penting dalam meningkatkan porsi green project Indonesia. Ini karena ketersediaan Indonesia yang masih sangat terbatas.

Pada tataran operasional, People dan Business Process menjadi hal yang diutamakan BRI dalam implementasi ESG.

“Operasional kita nggak akan pernah optimal ketika kita nggak meng-address isu mengenai manusianya,” kata Solichin.

WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com