Selasa, 20 Feb 2024

Pakar Ekonomi Sebut Hilirisasi Industri Harus Berkelanjutan

Pakar Ekonomi Sebut Hilirisasi Industri Harus Berkeadilan dan Berkelanjutan

ESG Indonesia – Pakar ekonomi pembangunan Universitas Indonesia (UI), Teguh Dartanto mendukung pemerintah untuk mendorong hilirisasi industri dalam negeri yang dinilai dapat menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat dan negara.

Teguh menerangkan, hilirisasi atau downstreaming dalam konteks besar industri kebijakan (industrial policy) adalah bagaimana mendorong perekonomian agar tidak hanya didominasi oleh sektor pertanian dan sektor primer saja, tapi juga bergerak ke industri manufaktur.

“Kalau dalam konteks itu hilirisasinya harusnya kita dorong. Artinya kita dorong bagaimana dari raw material ini diproses dalam negeri untuk menjadi nilai tambah. Harusnya, konteks industrial policy, artinya lebih komprehensif. Jadi hilirisasinya gak sepotong-potong ya,” kata Teguh dalam keterangannya, Rabu (27/12).

Amerika Serikat
Ilustrasi industri (Pexels)

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) ini menegaskan, pemerintah harus serius menggarap hilirisasi industri ini dengan membangun roadmap atau peta jalan, sehingga hilirisasi ini tidak selalu diasosiasikan pada industri pertambangan seperti nikel saja tapi juga industri pertanian yang memiliki potensi sangat besar seperti CPO (Crude Palm Oil) hingga UMKM yang perlu diberdayakan.

Selain itu, sambung Teguh, hilirisasi juga harus memberikan dampak dan manfaat bagi warga sekitar industri. Oleh karena itu perlu kebijakan dari pemerintah untuk membangun hilirisasi industri yang berkeadilan dan berkelanjutan.

Hilirisasi Industri
Ilustrasi industri (Pexels)

“Sehingga jangan sampai kalau barang sudah habis masyarakatnya nanti yang ditinggalkan sengsara sehingga kita harus mendorong yang namanya berkelanjutan, artinya daerah tambangnya ditata dengan baik, lingkungannya juga harus diperhatikan, mendorong keberlanjutan kehidupan masyarakat di sana. Memang pembangunan ini butuh endurance, butuh konsistensi, butuh persistensi,” ujarnya.

Peraih gelar doktor dari Nagoya University ini menjelaskan, jika pemerintah sukses mengembangkan hilirisasi industri maka bukan tidak mungkin Indonesia akan naik kelas menjadi negara maju. Kendati demikian, kata teguh, tidak semua negara sukses menerapkan sistem hilirisasi industri tersebut.

Teguh menambahkan, China merupakan negara yang sukses membangun sistem hilirisasi industri karena menerapkan kebijakan hilirisasi yang berkelanjutan yakni membangun alur produksi dari barang mentah, setengah jadi, hingga menjadi barang jadi.

Industri baja , deindustrialisasi Indonesia
ilustrasi industri baja. (pixabay)

“Kalau itu nggak didorong industri berkelanjutannya atau tahap ketiganya ya kita hanya menjadi eksportir barang setengah jadi lagi. Itu yang seharusnya didorong sebuah kebijakan yang komprehensif dan konsisten serta persisten. Membangun ekosistem industrinya harus jalan. Misal nikel ekosistemnya harus dibangun kalau nggak dibangun nanti kita ekspor dari raw material pindah menjadi barang setengah jadi. Intinya kalau mau naik kelas ya kita harus next level ya membangun ekosistem industri dari produk hilirisasi itu,” ucap teguh.

Lebih jauh Teguh menambahkan, jika pemerintah telah memiliki roadmap yang jelas terhadap hilirisasi industri tersebut maka bukan tidak mungkin investor asing akan menanamkan modalnya di Indonesia seperti yang pemerintah harapkan selama ini.

“Itu kan akan memberikan sinyal kepada investor akan datang dan invest (investasi). Kalau itu clear, semua orang tahu petanya dan itu bisa dijual dan dikomunikasikan dengan baik oleh investor, menurut saya ini akan menjadi daya tarik,” tuturnya.

WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com