Minggu, 21 Jul 2024

Lebih dari 800 Pembangkit Listrik Batu Bara di Negara Berkembang Dinonaktifkan

Tak dipungkiri, transisi menuju energi bersih dengan penghentian operasional pembangkit listrik batu bara akan menjadi tantangan keuangan yang lebih besar.

ESG Indonesia – Menurut penelitian Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA), pada akhir dekade ini, lebih dari 800 pembangkit listrik batu bara di negara-negara berkembang dinonaktifkan dan digantikan oleh energi surya yang lebih bersih.

Sebanyak 800 pembangkit listrik batu bara tersebut diidentifikasi oleh IEEFA mencakup sekitar 600 pembangkit listrik yang dibangun 30 tahun yang lalu bahkan lebih. Banyak di antaranya telah melunasi utang dan tidak lagi terikat oleh kontrak pemasok listrik yang panjang.

Meskipun hanya sepersepuluh dari pembangkit listrik batu bara yang dijadwalkan akan ditutup pada 2030, jumlahnya bisa bertambah jika terdapat upaya yang dilakukan untuk mengidentifikasi peluang keuntungan jika beralih ke energi bersih.

“Masalah utama di sini adalah kurangnya jaringan transaksi dari batu bara ke energi bersih yang terdefinisi dengan baik, terkontrak, dan dapat dibiayai,” kata penulis utama laporan tersebut, Paul Jacobson, mengutip Reuters.

Ilustrasi Batubara. gasifikasi(pixabay) ASEAN TAMBANG ilustrasi nikel
Ilustrasi Batu bara. (pixabay)

Sekitar 15,5 miliar metrik ton karbon dioksida dihasilkan setiap tahun oleh 2.000 gigawatt pembangkit listrik tenaga batu bara. Badan Energi Internasional mengatakan emisi harus mencapai nol pada 2040 jika kenaikan suhu tetap berada dalam ambang batas 1,5 derajat Celsius.

Tetapi penghentian operasi pembangkit listrik batu bara mahal, terutama jika pembangkit masih membayar utang atau terikat pada perjanjian pasokan listrik yang mengikat selama beberapa dekade. Pemerintah perlu mencari solusi untuk membiayai transisi energi bersih dan mempercepat penutupan banyak pembangkit listrik batu bara.

tambang batubara Delta Dunia Makmur Negara limbah faba Batubara
Ilustrasi batu bara. (pixabay)

Dengan margin keuntungan energi terbarukan yang cukup untuk menutupi biaya penggantian pembangkit listrik tenaga batu bara, penghentian operasional 200 pembangkit listrik yang dibangun antara 15 dan 30 tahun lalu dapat terjangkau. Meskipun kendala tetap ada, termasuk subsidi bahan bakar fosil yang meningkatkan nilai aset.

Penghentian operasional pembangkit listrik juga akan menjadi tantangan keuangan yang lebih besar, terutama di negara-negara yang masih membangun penyimpan listrik baru, termasuk Vietnam.

Ilustrasi batu bara. (pixabay)
Ilustrasi batu bara. (pixabay)

Kelompok lingkungan mengkritik pembiayaan transisi energi karena sama saja membayar pencemar lingkungan agar tidak lagi mencemari lingkungan. Jacobson mengatakan “pagar pembatas” diperlukan untuk menghindari terciptanya insentif yang menyimpang.

“Perusahaan yang terus membangun pembangkit listrik tenaga batu bara baru sambil mencari konsesi untuk membangun energi terbarukan seharusnya tidak diperbolehkan menggunakannya untuk mendapatkan keuntungan dari hal ini,” tukasnya.

WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com