Jumat, 14 Jun 2024

Kemenko Marves Klaim CCS Jadi Solusi Teknologi Transisi Energi

CCS sangat penting bagi Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara untuk mencapai Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060.

ESG Indonesia – Saat ini peningkatan emisi karbon di dunia kian berlanjut. Kemenko Marves melalui Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi, Jodi Mahardi menyuarakan pentingnya Carbon Capture Storage (CCS) dalam mengurangi emisi karbon.

“Perubahan iklim dan peningkatan emisi karbon global menyoroti kebutuhan yang sangat mendesak untuk transisi energi saat ini,” ujar Jodi dalam acara Energy Transitions and Equitable Development in Southeast Asia, yang diselenggarakan oleh The National Bureau of Asian Research (NBR) Event di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta (31/1/2024).

Negara negara anggota ASEAN sangat rentan terhadap perubahan iklim, yang menyebabkan terjadinya banjir, kekeringan, hingga angin topan dan tsunami. Hal ini disebabkan oleh total emisi Karbon (CO2) bersih antropogenik terus meningkat secara global.

“Langkah-langkah pengurangan emisi sedang didorong, termasuk transisi dari penggunaan bahan bakar fosil ke energi terbarukan,” ungkapnya.

tambang batubara
Ilustrasi tambang batubara. (pixabay)

Indonesia saat ini masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil, sehingga diperlukan upaya untuk mengurangi emisi nasional sekaligus memenuhi peningkatan energi. Data terbaru untuk tahun 2022, menunjukkan peningkatan CO2 di Indonesia berasal sebagian besar dari industri tenaga listrik, pembakaran dan transportasi.

“Rencana pengadaan listrik jangka panjang terkini masih menunjukkan penggunaan bahan bakar fosil. Namun demikian, Indonesia masih bekerja keras untuk bisa mencapai target transisi energi yang sedang dilakukan,” ungkap Jodi.

“Salah satu fokus transisi energi Indonesia adalah menggunakan Just Energy Transition Partnership (JETP). Teknologi transisi energi yang difokuskan adalah jalur transmisi dan teknologi penerapan jaringan, teknologi untuk penghentian dini dan retrofit pembangkit listrik tenaga batubara, serta berbagai variasi energi terbarukan,” sambungnya.

Selain itu, menurutnya, teknologi transisi energi yang difokuskan adalah jalur transmisi dan teknologi penerapan jaringan, teknologi untuk penghentian dini dan retrofit pembangkit listrik tenaga batubara, penangkapan dan penyimpanan karbon, serta berbagai variasi energi terbarukan.

ABM Investama
Ilustrasi pertambangan (Pexels)

CCS, sebagai salah satu opsi transisi energi di sektor industri pertambangan mineral. Dimana Indonesia kaya cadangan mineral penting yang memerlukan teknologi tersebut untuk strategi dekarbonisasi di sektor industri pertambangan mineral. Sebagai contohnya adalah nikel.

Sumber daya mineral ini sangat penting tidak hanya untuk domestik transisi energi tetapi juga transisi energi global melalui industri hilir pengolahan mineral. Dan pengolahan sumber daya mineral ini akan memproduksi CO2 yang memerlukan strategi dekarbonisasi seperti CCS.

Menurut laporan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, cadangan nikel Indonesia pada tahun 2022 diperkirakan berjumlah 55 juta ton. Saat ini Indonesia juga merupakan produsen nikel terbesar di dunia, serta produsen bauksit terbesar ke-5.

Kemenko Marves Klaim CCS Jadi Solusi Teknologi Transisi Energi 4
Ilustrasi transisi menuju energi bersih (Pixabay)

Sebagai contoh bagian dari teknologi transisi energi yang saat ini dikembangkan, salah satunya adalah CCS. Menurut Deputi Jodi, CCS penting untuk mempercepat dekarbonisasi Indonesia agar Indonesia bisa berada pada posisi utama untuk menjadi yang terdepan dalam pusat CCS regional.

Pemerintah Indonesia mendukung penerapan CCS, dan menjadi negara pertama di Asia yang memiliki sistem hukum yang lengkap mengenai kerangka kerja untuk CCS. Peraturan Presiden tentang CCS yang sudah diluncurkan dan diresmikan pada hari ini akan melengkapi kerangka hukum CCS tersebut.

Teknologi lain yang dikembangkan adalah, Small Modular Reactor (SMR), dengan dukungan dari Departemen Perdagangan AS. SMR adalah reaktor nuklir canggih dengan ukuran kapasitas lebih kecil, dibandingkan dengan pembangkit listrik tenaga nuklir tradisional. Kapasitasnya bisa berkisar antara 10 MW hingga 300 MW.

PLN
Ilustrasi energi listrik (Pexels)

SMR dapat menyediakan listrik tempat-tempat terpencil di pulau-pulau Indonesia, karena reaktornya sendiri bersifat modular, dengan konstruksi yang lebih sederhana, keterjangkauan biaya modal awal yang baik, dan peningkatan keselamatan.

Indonesia telah menandatangani beberapa MOU G2G untuk pengembangan SMR, serta merencanakan beberapa MOU Pengembangan SMR dan proyek studi kelayakan. Kelangsungan solusi transisi energi membutuhkan tiga ekosistem utama, konteks pasar, model bisnis dan struktur komersial.

Kelangsungan proyek transisi energi sangat bergantung pada intervensi pemerintah dan peraturan penetapan harga, serta permintaan akan energi bersih. Semua aspek ini akan mempengaruhi biaya dan kelangsungan model bisnis proyek, yang memungkinkan kita untuk memutuskan model bisnis mana yang cocok untuk proyek tersebut.

Menurut Deputi Jodi, “Memiliki model bisnis yang tepat akan menciptakan kerangka kerja yang lebih baik dalam hal negosiasi komersial, dengan alokasi pendapatan dan biaya, pembagian risiko dan tanggung jawab, serta tata kelola yang baik.”

Fokus pemerintah adalah meningkatkan jaminan investasi melalui berbagai kebijakan instrumen untuk membentuk lingkungan pasar yang baik, membentuk model bisnis yang layak, dan mempengaruhi model komersial yang layak.

Indonesia menganggap penting untuk mencapai keseimbangan antara pengembangan energi transisi teknologi dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi. Pemerintah melakukan upaya besar untuk mencapai transisi energi bersih dan mengharapkan kerja sama dari sektor swasta, dukungan dari masyarakat Indonesia untuk lebih mempercepat transisi ini.

Deputi Jodi menyimpulkan, bahwa “Indonesia memiliki beberapa solusi transisi energi yang sedang berjalan secara aktif dalam keterlibatannya di era transisi energi (misalnya dengan CCS dan SMR). CCS sangat penting bagi Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara untuk mencapai Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060, pemerintah Indonesia saat ini sedang berupaya menuju transisi energi sambil menjaga pertumbuhan ekonomi yang sehat

WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com