Sabtu, 18 Mei 2024

Kebut Program Ekonomi Biru, KKP Kembangkan Metode Audit 5.0

Pacu pertumbuhan ekonomi nasional melalui sektor kelautan dan perikanan, KKP kebut program ekonomi biru.

ESG Indonesia – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengusung metode audit 5.0 pada 2024 untuk memastikan percepepatan pelaksanaan lima program prioritas ekonomi biru berdampak positif pada keberlanjutan ekologi, ekonomi, dan kehidupan sosial masyarakat.

“Kami mencoba mengembangkan yang disebut audit 5.0. Kami tidak saja mengumpulkan data-data tapi lebih kepada menganalisa data-data tersebut,” ujar Inspektur Jenderal KKP Tornanda Syaifullah dalam konferensi pers Outlook dan Program Prioritas Sektor Kelautan dan Perikanan Tahun 2024 di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan di Jakarta.

“Dan kalau kita melaksanakan ini, KKP menjadi kementerian pertama yang melaksanakan. Jadi pelaksanaan itu bukan saja kepada output base tapi kepada outcome base,” sambungnya.

Dalam keterangan tertulisnya, Tornanda menerangkan penerapan audit 5.0 menjadi bagian dari peningkatan strategi yang dilakukan pihaknya dalam mengawal implementasi lima program prioritas ekonomi biru.

Energi Laut
Ilustrasi laut (Pexels)

Dan untuk mendukung hal itu lebih dulu dikembangkan analisis big data berupa yang terintegrasi dengan seluruh unit kerja di KKP, khusus untuk pengawasan.

Di samping penguatan teknologi audit, pihaknya akan terlibat dalam setiap perencanaan hingga pelaksanaan regulasi maupun program kerja yang dilakukan setiap unit kerja.

“Semua itu akan bermuara pada penilaian apakah terjadi efisiensi dan efektivitas pada semua program, khususnya program-program berbasis ekonomi biru. Kedua, hasil yang kami bangun ini nanti menjadi gap improvement bagi setiap mitra kami eselon I untuk perbaikan kelanjutannya. Ketiga meningkatkan angka kepatuhan untuk menekan angka fraud,” pungkasnya.

Portofolio Saham Berbasis Faktor
Ilustrasi data laporan (Unsplash)

KKP masih melanjutkan pelaksanaan lima program ekonomi biru di tahun ini. Kelimanya yakni perluasan kawasan konservasi laut, penangkapan ikan secara terukur berbasis kuota, pengembangan perikanan budidaya di laut, pesisir dan darat yang berkelanjutan, pengawasan dan pengendalian pesisir dan pulau-pulau kecil, serta pembersihan sampah plastik di laut melalui gerakan partisipasi nelayan atau Gerakan Nasional Bulan Cinta Laut.

Dari sisi hulu, penguatan akan dilakukan di berbagai lini di antaranya melengkapi infrastruktur pelabuhan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, hingga menggencarkan sosialisasi penangkapan ikan terukur berbasis kuota sebelum program ini berjalan tahun depan. Pembangunan modeling budidaya perikanan di darat, laut, dan pesisir juga masih akan terus dilakukan.

“Di budidaya dan di tangkap itu sebetulnya bagiannya di hulu. Jadi kami mencoba mengawal ini semua supaya semua kebijakan yang ada lima tadi kami coba terjemahkan dengan baik,” ujar Dirjen Perikanan Budi Daya TB Heru Rahayu, yang juga menjabat sebagai Plt Dirjen Perikanan Tangkap KKP.

Regulasi Perlindungan Lingkungan Laut dan Kelautan
Ilustrasi konservasi laut (Unsplash)

Sementara itu, untuk program perluasan kawasan konservasi, pengawasan dan pengendalian pesisir serta pulau-pulau kecil, hingga gerakan nasional Bulan Cinta Laut akan dikebut pelaksanaannya tahun ini. Untuk perluasan kawasan konservasi misalnya, tahun ini KKP ditargetkan mencapai luasan 29,3 juta hektare.

Direktor Jenderal Pengelolaan Kelautan dan Ruang Laut (PKRL) Victor G Manoppo optimis dapat mencapai angka tersebut. Tahun 2023 lalu, KKP bahkan berhasil melampaui target yang telah ditetapkan.

“Dari lima program prioritas ekonomi biru KKP, ada tiga di bawah tanggung jawab Ditjen PKRL. Tahun kemarin sudah dilaksanakan dari target yang ditetapkan. Rata-rata kita bisa mencapai seratus persen bahkan ada yang lebih. Pertama kaitannya dengan perluasan kawasan konservasi dari target tahun 2023 itu 29,1 juta yang kita capai justru 29,2 juta hektare,” akunya.

Substansi pelaksanaan lima program prioritas ekonomi biru pun tak kelas dari penjaminan mutu produk perikanan serta peningkatan daya saing produk perikanan. Tahun ini, KKP menargetkan perluasan pasar produk di ranah global, penguatatan sistem logistik dan pejaminan mutu dari hulu hingga hilir sektor perikanan.

ilustrasi produksi perikanan melalui blue economy. (unsplash)
ilustrasi produksi perikanan melalui program ekonomi biru. (unsplash)

Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Budi Sulistyo memaparkan, di akhir tahun 2023 produk perikanan Indonesia tidak lagi dikenakan tarif untuk masuk ke pasar Jepang. Ini tentunya menjadi langkah yang sangat baik dalam mencapai target ekspor produk perikanan di tahun 2024 sebesar USD7,20 miliar.

“Untuk mendukung penguatan daya saing ini, unit kerja di 38 provinsi nantinya akan membantu penjaminan mutu dari hulu sampai hilir, sehingga produk kelautan dan perikanan aman untuk dikonsumsi, untuk ekspor, maupun juga untuk domestik,” sambung Plt Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan (BP2MKHP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Ishartini di acara serupa.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia I Nyoman Radiarta menambahkan, sepanjang tahun 2024 KKP juga mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia di sektor kelautan perikanan melalui satuan pendidikan, pelatihan dan peran penyuluh perikanan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Saat ini KKP memiliki 11 satuan pendidikan tinggi serta 4.200 penyuluh perikanan. “Kami mendukung dan mengawal program prioritas yang direncanakan KKP melalui fungsi dalam rangka menyiapkan pendidikan, pelatihan dan penyuluhan,” ungkap Nyoman.

KKP pun tak akan mengendorkan pengawasan di laut terhadap praktik-praktik IUU fishing. Dengan adanya penambahan armada kapal pengawas serta petugas patroli pada tahun 2023, serta dukungan teknologi berbasis satelit Command Center, pengawasan di laut akan semakin optimal di tahun ini.

“Ke depan dengan Command Center kami mengembangkan sistem pengawasan dengan menggunakan AI. Ke depan disusun konsep sistem pengawasan cerdas sehingga tidak perlu banyak usaha untuk menggerakan kapal dan sdm,” beber Sekretaris Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Suharta.

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan (KP) Sakti Wahyu Trenggono memastikan pelaksanaan program ekonomi biru akan dikebut tahun ini. Langkah tersebut untuk menjamin keberlanjutan ekologi dan memacu pertumbuhan ekonomi nasional melalui sektor kelautan dan perikanan.

WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com