Selasa, 20 Feb 2024

Bahaya di Balik Kepungan Polusi Jakarta

Jakarta sempat masuk daftar kota polusi terburuk di dunia, pemerintah didesak segera menanganinya lantaran dampaknya sangat membahayakan kesehatan masyarakat.

Sejak Juli, kualitas udara Jakarta sempat menduduki peringkat lima teratas kota dengan kualitas udara terburuk di dunia. Hal tersebut pun membuat masyarakat dilanda kepanikan lantaran polusi udara yang buruk bisa mengancam kesehatan.

Pemerintah sendiri kemudian mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk mengatasi polusi. Dari mulai penerapan Work From Home (WFH) untuk Aparatur Sipil Negara (ASN), penyemprotan air dari atas gedung menggunakan water mist, hingga modifikasi cuaca. Namun, upaya-upaya tersebut belum juga membuahkan hasil siginifikan.

Riset terbaru dari Air Quality Life Index (AQLI)  mengungkapkan Jakarta menjadi provinsi paling berpolusi di Indonesia, di mana 10,7 juta penduduk diperkirakan akan kehilangan rata-rata harapan hidup selama 2,4 akibat standar yang lemah untuk pencemaran udara. Pasalnya, standar angka pencemaran udara yang dipakai di Indonesia yaitu ISPU, masih 3-5 kali lemah dari standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Sementara menurut analisis data dari Center for Research on Energy and Clean Air (CREA), polusi udara di Jakarta telah mencapai tingkat tertinggi dalam beberapa minggu terakhir. Tren PM2.5 selama lima tahun terakhir menunjukkan pola periode angka polusi tinggi yang berulang, yaitu pada bulan Mei hingga September. Tingkat polusi konsisten tinggi, di mana rata-rata tingkat PM2.5 berkisar 7 hingga 9 kali lebih tinggi dibandingkan standar WHO di tahun 2021.

Namun Data KLHK menyasar sumber emisi yang hanya terbatas dalam kota. Tidak mempertimbangkan sebaran emisi dan kontribusi dari luar Jakarta. Menganalisis emisi dalam wilayah yang lebih luas, dengan menggunakan radius 200 km sebagai ilustrasi, terungkap bahwa terdapat beberapa sumber utama polusi Jakarta antara lain pembangkit listrik, transportasi, industri, dan pembakaran terbuka. Faktanya, Jakarta dikelilingi oleh selusin pembangkit listrik tenaga batubara besar dalam jarak 100 kilometer.

“Pemerintah harus lebih serius menangani polusi udara, atasi polusi dari sumbernya”, ujar Bondan Andriyanu, Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia dalam keterangan resminya.

“Inventarisasi emisi harus dilakukan secara berkala, agar jelas diketahui dari mana polutan berasal, gunakan subsidi untuk transportasi umum berbasis listrik bukan untuk kendaraan listrik pribadi, dan segera lakukan transisi energi untuk mengurangi emisi pada tingkat kota secara signifikan,” sambungnya.

Partikulat polusi menyebabkan masalah kesehatan yang serius. Data dari UNICEF menyebutkan bahwa 600 ribu anak di seluruh dunia terancam menghirup kualitas udara yang buruk. Ratusan ribu orang sudah terkena ISPA sejak kualitas udara Jakarta memburuk menurut data dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta.

WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com