Minggu, 21 Jul 2024

AC Ventures dan PwC Indonesia Rilis Pedoman ESG untuk Startup

AC Ventures dan PwC Indonesia terbitkan pedoman ESG untuk perusahaan Start up.

ESG Indonesia – AC Ventures bekerjasama dengan PricewaterhouseCoopers (PwC) Indonesia dalam merilis panduan tata kelola komprehensif yang terkait dengan kerangka nilai lingkungan, sosial, dan tata kelola (environmental, social, and governance/ESG). Panduan ini dikhususkan untuk perusahaan start up.

Menurut pedoman yang berjudul Corporate Governance for Tech Startups tersebut, panduan ini bersandar pada Pedoman Umum Indonesia untuk Tata Kelola Perusahaan (Indonesian General Guidelines for Corporate Governance).

Panduan ini memberikan saran praktis mengenai akuntabilitas, transparansi, keberlanjutan, dan perilaku etis sebagai landasan kunci untuk memastikan keberlangsungan dan kesuksesan perusahaan di dalam dunia bisnis yang penuh ketidakpastian.

Menurut data PwC pada tahun 2022, 80% investor berhati-hati terhadap “greenwashing.” Data PwC pada tahun 2023 juga menunjukkan bahwa 70% konsumen cenderung memilih produk yang berkelanjutan.

“Startup di Indonesia, termasuk portofolio kami, selalu menunjukkan semangat wirausaha yang kuat. Beberapa masalah dan contoh kasus menjadi pelajaran berharga dan menegaskan pentingnya pencegahan. AC Ventures dan PwC Indonesia membagikan pengetahuan untuk membimbing para founder dalam membangun fondasi yang kuat, membuat keputusan terarah, dan menghindari risiko umum terkait tata kelola perusahaan.” kata Michael Soerijadji, Founder & Managing Partner AC Ventures.

Indonesia Emas 2045 melalui penerapan ESG
Ilustrasi SDM Unggul Indonesia Emas 2045. (pixabay)

Pedoman ini memuat kerangka kerja yang terdiri dari Front Line, Risk & Compliance, dan Internal Audit, dengan paparan mendalam tentang peran dan tanggung jawab Dewan Direksi (BOD), penentuan strategi, hingga kepatuhan perusahaan.

Pada era yang terus berubah, panduan ini menekankan perlunya inovasi dalam pendekatan dewan dan manajemen. Pengawasan tradisional tetap penting, tetapi ada juga potensi besar bagi mereka yang menjelajahi pendekatan pengawasan yang baru.

Dalam hal keuangan, panduan ini menekankan strategi-strategi penting. Perusahaan rintisan disarankan untuk bijak dalam menjaga cadangan dana selama dua tahun, berusaha mencapai profitabilitas, serta mengelola arus kas dan investasi modal dengan bijak, sehingga sesuai dengan aspirasi pertumbuhan mereka.

Panduan ini juga menyoroti pentingnya pelaporan keuangan yang teliti, mendorong akurasi, kejelasan komprehensif, dan keteraturan dalam semua pengungkapan keuangan, dengan fokus pada aspek-aspek dasar seperti penilaian aset yang akurat dan pengungkapan yang lengkap.

investasi hijau SRI
Ilustrasi investasi hijau SRI (Pexels)

Bagi perusahaan rintisan yang ingin mengintegrasikan prinsip-prinsip ESG, panduan ini memberikan arahan yang mencakup peningkatan keterampilan internal yang konsisten, meningkatkan dialog dengan pemangku kepentingan, memastikan kriteria ESG menjadi bagian integral dari evaluasi mitra dan vendor, memanfaatkan kemajuan teknologi, mengembangkan kolaborasi, dan mendorong transparansi dalam laporan yang berfokus pada ESG.

Panduan ini juga menekankan peran penting dewan dalam mengawasi strategi ESG seperti ini, yang didukung oleh Survei Investor Global PwC yang menemukan bahwa 79% investor saat ini menganggap ESG sebagai faktor sentral dalam pengambilan keputusan investasi mereka.

Menurut laman resmi PwC, dalam lanskap bisnis yang dinamis saat ini, pertimbangan ESG menjadi semakin penting dan menarik perhatian organisasi-organisasi yang berpikiran maju.

Pentingnya ESG di Indonesia

ESG tidak hanya sebuah konsep global, tapi juga memiliki implikasi yang signifikan di dalam negeri, terutama dalam menghadapi berbagai tantangan lingkungan dan sosial. Berikut adalah beberapa alasan mengapa ESG memiliki peran vital di Indonesia.

1. Perlindungan Lingkungan

Indonesia adalah rumah bagi sejumlah kekayaan alam yang luar biasa, termasuk hutan hujan tropis yang sangat penting bagi keseimbangan ekosistem global. Sayangnya, deforestasi dan degradasi hutan terus berlanjut, mengancam keberlanjutan lingkungan.

Perusahaan yang menerapkan praktik ESG yang baik dapat membantu mengurangi dampak negatifnya pada lingkungan.

Mereka dapat berinvestasi dalam upaya pelestarian hutan, membatasi emisi karbon, dan mengelola limbah dengan bijak.

2. Pengembangan Sosial

Aspek sosial ESG mencakup hubungan perusahaan dengan komunitas lokal, kesejahteraan karyawan, dan kontribusi positif terhadap masyarakat. Di Indonesia, di mana kesenjangan sosial masih menjadi masalah, peran perusahaan dalam pengentasan kemiskinan dan peningkatan pendidikan sangat penting.

etika bisnis
Ilustrasi etika bisnis (Pexels)

Perusahaan-perusahaan yang fokus pada ESG dapat membantu menciptakan lapangan kerja yang layak, memberikan pelatihan dan pendidikan kepada masyarakat setempat, dan memberikan kontribusi yang berarti dalam upaya pemberantasan kemiskinan.

3. Tata Kelola Perusahaan yang Baik

Sebuah tata kelola perusahaan yang baik adalah fondasi penting untuk keberlanjutan bisnis jangka panjang. Perusahaan yang mematuhi prinsip-prinsip tata kelola yang baik memiliki potensi untuk mengelola risiko yang lebih baik, mempertahankan kepercayaan investor, dan mencapai pertumbuhan berkelanjutan.

Ketika perusahaan di Indonesia menerapkan prinsip-prinsip tata kelola yang baik, mereka tidak hanya memberikan manfaat bagi pemegang saham, tetapi juga memberikan dampak positif pada perekonomian secara keseluruhan.

WP Twitter Auto Publish Powered By : XYZScripts.com